Di Mesir beberapa wisatawan mengunjungi piramida Giza, tiga di antaranya adalah seorang keluarga yang mempunyai anak nakal bernama Justin. Justin bermain pesawat sampai ke batas konstruksi piramida dan terjatuh dari ketinggian , para penjaga sudah pasrah dan mengira Justin akan meninggal akibat terkena batu piramida yang keras , tapi ternyata tidak , piramida berubah menjadi elastis dan lentur sehingga dapat melontarkan Justin.

Berita hilangnya piramid ini disiarkan di beberapa negara sehingga beberapa negara seperti Tiongkok, Prancis dan lainnya melindungi masing-masing bangunan populernya , tidak jarang juga para turis gila melindungi benda-benda kesayangannya . Di lain tempat Gru seorang penjahat terkemuka yang pulang dari cafe kembali kerumahnya yang besar dan penuh kegelapan dengan tanaman yang layu dan tanah tandus . Ia turun dari mobil besarnya yang berpolusi dan disapa oleh tetangganya Fred yang memiliki rumah indah , Gru masuk ke rumah dan ingin mencicipi kuenya , tetapi para yatim piatu datang untuk menawarkan kue , Gru dengan sombongnya menolak kue itu.

Kembali untuk memakan kuenya Gru dipanggil Dr Nefario atas pencurian piramida yang bukan Gru pelakunya , Gru langsung ke ruang bawah tanahnya untuk mendiskusikannya kepada para Minions , pekerja-pekerja Gru yang dibuatnya dengan bentuk makluk kecil kuning bermata satu dan dua , Gru mendiskusikan bahwa ia sudah mencuri TV Jumbo time square , dan ia akan mencuri Bulan untuk saingan sang pencuri piramida , Gru pergi menghutang ke Bank kejahatan saat di jalan Gru ditelepon ibunya yang sedang latihan karate , ia mengira bahwa anaknya sudah mencuri piramida .

Di Bank Gru bertemu seorang penjahat baru yang kelihatan Idiot bernama Vector , saat Gru bertemu MR perkins ketua Bank , Gru disuuruh bersaing mendapatkan mesin penciut bersama Vector yang ternyata pencuri piramida , Gru tidak mau tersaing dan mencari mesin penciut awalnya Gru memang berhasil mengambil mesin penciut , tapi tidak setelah Vector mengambilnya lagi dan menembakkannya ke pesawat Gru , pesawat Gru mengecil dan Gru sekali lagi gagal .

Di panti asuhan 3 anak yang menawarkan kue kepada Gru. Margo , Edith dan agnes ia berharap agar bisa segera diadopsi , Gru yang mengendap ke markas Vector dibantai habis-habisan , ia menemukan cara ampuh yaitu dengan mengadopsi anak-anak dan memesukinya ke markas Vector untuk mengirim Kue , rencana Gru berhasil untuk mengadopsi anak-anak miss hattie dan mendapat tembakan penciut , beberapa peristiwa terjadi setelah anak-anak datang , mereka berhasil mengubah image Gru yang seorang penjahat menjadi seorang yang baik hati.

Sampai akhirnya Gru berhasil mencuri Bulan , tanpa disadari setelah dicuri Vector bulan itu membesar dan Vector terdampar di Bulan yang sudah membesar kembali , Gru akhirnya mengadopsi anak-anak secara resmi , pada Epilog Gru , ibunya dan para Minions melihat konser dansa Margo,Edith & Agnes yang mengganti konser mereka yang dilewatkan Gru.

8 Tempat Wisata Rohani Katolik di Yogyakarta

Saat beban hidup kian mendesak dan kepala mulai penat dengan berbagai permasalahan, maka berarti tiba saatnya untuk undur sejenak. Undur sejenak, untuk beristirahat dan kembali menyegarkan pikiran. Tak ada pelipur lara yang lebih indah daripada Sang Pencipta sendiri. Dekatkan diri pada Sang Ilahi, karena Dia yang bisa menjawab setiap pergumulanmu. Mari, langkahkan kakimu dan berziarahlah. Di Yogyakarta, bagi umat Kristiani, ada cukup banyak tempat wisata rohani yang bisa menjadi oase bagi mereka yang haus akan Tuhan. Klikers, berikut 8 tempat wisata rohani Katolik di Yogyakarta.

1. Gereja Ganjuran

Gereja Ganjuran

Kristus dalam Busana Jawa

Di Gereja Ganjuran, Anda dapat melihat Kristus dalam wajah Jawa. Gereja Ganjuran, atau lengkapnya Gereja Hati Kudus Yesus Ganjuran, terletak di Desa Sumbermulyo, Bambanglipuro, Bantul, Yogyakarta. Gereja ini mulai dibangun pada tahun 1924 dan selesai pada tahun 1927. Gereja ini diprakarsai oleh Joseph Smutzer dan Julius Smutzer, dua bersaudara yang mengelola Pabrik Gula Gondang Lipuro yang mencapai masa keemasan pada tahun 1918 – 1930. Bangunan gerejanya memiliki perpaduan arsitektur Eropa, Jawa, dan Hindu. Di Gereja Ganjuran ini, Anda juga dapat mengunjungi Candi Hati Kudus Yesus. Candi ini memiliki teras dengan relief bunga teratai dan patung Yesus dengan pakaian Jawa. Di gereja ini Anda juga dapat melihat patung Bunda Maria dalam pakaian jawa. Gereja Ganjuran secara rutin mengadakan misa dalam bahasa jawa dengan nyanyian lagu yang diiringi gamelan.

2. Sendangsono

Goa Maria Sendang Sono

Sendangsono

Tempat wisata rohani katolik di Yogyakarta yang paling terkenal bisa jadi adalah Sendangsono. Sendang artinya mata air dan sono artinya pohon sono. Memang mata air di Sendangsono ini terletak di bawah pohon sono. Pada tahun 1904, Romo Van Lith datang dan membaptis 173 warga Kalibawang dengan air sendang. Sejak saat itulah, tempat ini menjadi tempat perziarahan umat Katolik. Peristiwa pembaptisan ini tergambar dalam relief di salah satu kapel. Kompleks ziarah Sendangsono ini terdiri dari kapel-kapel kecil, lokasi Jalan Salib, Gua Maria, pendopo, sungai, dan kios penjualan perlengkapan doa. Kompleks ziarah Sendangsono yang sangat indah ini dirancang oleh Romo YB Mangunwijaya dan memperoleh Aga Khan Award, sebagai arsitektur yang akrab dengan lingkungan. Sendangsono kerap dijuluki sebagai Loudes-nya Indonesia. Sendangsono berlokasi di Desa Banjaroya, Kalibawang, Kulonprogo, Yogyakarta.

3. Sendang Sriningsih

Gua Maria Sendang Sriningsih

Sendang Sriningsih

Sendang Sriningsih merupakan tempat wisata rohani Katolik di Yogyakarta yang terletak di kawasan Prambanan. Persisnya di daerah perbukitan di Dusun Jali, Desa Gayamharjo, Prambanan, Kabupaten Klaten. Kawasan yang kini menjadi tempat ziarah Sendang Sriningsih ini dikeramatkan dan dulunya sering dipakai untuk bersemedi. Namanya dulu adalah Sendang Duren. Lalu pada tahun 1935, Sendang Duren mulai dibangun menjadi tempat ziarah. Namanya pun berganti menjadi Sendang Sriningsih. Sriningsih memiliki arti perantara segala rahmat. Walaupun saat ini sumber asli sendang tidak lagi terlihat, namun pengunjung dapat mengambil air dari pancuran yang ada. Ajaibnya, Sendang Sriningsih ini tidak pernah mengalami kekeringan sekalipun sedang musim kemarau panjang. Untuk mencapai Sendang Sriningsih, terlebih dulu Anda harus mendaki bukit melewati ratusan anak tangga yang membelah hutan.

4. Salib Suci Gunung Sempu

Salib Suci Gunung Sempu

gunung sempu

Bukit Sempu adalah sebuah bukit kecil di pinggiran kota Yogyakarta yang termasuk dalam Kabupaten Bantul utara. Lokasi tepatnya yaitu di Jl. Rakai Hino, komplek PPLH Gunung Sempu, Kasihan, Bantul. Di puncak Bukit Sempu ini Anda dapat melihat sebuah Salib besar dari kayu tanpa corpus (Tubuh Kristus). Di samping salib besar tersebut terdapat sebuah gereja kecil yang indah bernama Gereja Salib Suci Gunung Sempu. Gereja Sempu ini dibangun pada tahun 1990. Suasana di puncak bukit yang hening dengan semilir angin sepoi sungguh membuat suasana doa menjadi lebih khidmat. Di sini, Anda juga dapat menemukan Sumur Yakub, yaitu sumur sedalam 33 meter yang tidak pernah kering. Para pengunjung boleh mengambil air dari sumur tersebut. Terdapat juga panti novena dengan Patung Maria Berduka.

5. Gua Maria Tritis

Bukit Golgota Gua Maria Tritis

Bukit Golgota

Gua Maria Tritis merupakan salah satu tempat wisata rohani Katolik di Yogyakarta yang cukup unik. Bila biasanya Gua Maria berupa gua buatan, maka Gua Maria Tritis ini merupakan gua alami lengkap dengan stalaktit dan stalagmit. Bahkan Anda dapat mendenger cericit kelelawar ataupun air yang menitik dari bebatuan. Tempat ziarah Gua Maria Tritis ini tergolong sederhana. Hanya ada patung Bunda Maria dan sebuah salib besar. Dalam kesederhanaan, kita bisa belajar untuk lebih mensyukuri hidup kita. Untuk mencapai Gua Maria Tritis, Anda harus berjalan kaki menyusuri jalan yang membelah ladang jati. Di beberapa tempat terdapat stasi-stasi dengan diorama Jalan Salib. Gua Maria Tritis ini terletak di tepi Jalan Lingkar Selatan Gunungkidul tepatnya di Dusun Bulu, Desa Giring, Kecamatan Paliyan. Jaraknya dari kota Yogyakarta kurang lebih 50 km. Di kompleks Gua Maria Tritis ini juga terdapat pondok penginapan.

6. Gua Maria Lawangsih

Goa Maria Lawangsih

lawangsih 3

Pada awalnya, Gua Maria Lawangsih hanya merupakan sebuah gua yang dihuni kelelawar, dikelilingi semak belukar dan pintu masuk guanya pun kecil saja. Dalamnya pun gelap dengan bau kotoran kelelawar. Namun, itu dulu. Kini gua yang terletak di perbukitan Menoreh itu sudah bertransformasi menjadi tempat ziarah Gua Maria Lawangsih. “Lawang” dalam bahasa jawa artinya pintu atau gerbang, sementara “sih” dari kata “asih” yang artinya cinta, rahmat, kasih sayang. Secara rohani, kata “Lawangsih” merujuk pada Bunda Maria sebagai perantara rahmat surgawi. Di samping Gua Maria Lawangsih, terdapat patung Kristus Raja memberkati setinggi 3 meter. Sementara di belakang goa terdapat ruang doa. Tempat ziarah Gua Maria Lawangsih ini juga dilengkapi dengan Kapel Stasi Santa Perawan Maria Fatima. Gua Maria Lawangsih diresmikan pada Mei 2009 dalam sebuah perayaan Ekaristi. Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo

7. Sumur Kitiran Mas

Sumur Kitiran Mas

gereja maria assumpta

Tempat wisata rohani katolik di Yogyakarta yan tak kalah unik adalah Sumur Kitiran Mas. Sumur ini berada di dalam Gereja St Maria Assumpta di Paroki Pakem. Letak sumur hanya beberapa meter dari altar gereja. Asal mulanya, ada sebuah jambangan air di bawah patung Bunda Maria agar suasananya menjadi sejuk saat orang berdoa. Namun, kemudian banyak umat yang meminum air tersebut lalu mengalami kesembuhan. Romo paroki saat itu, yaitu Rm G.P. Sindhunata, S.J lalu memutuskan melakukan penggalian dan menemukan mata air. Di dalam gereja saat ini ada dua buah sumur. Sumur yang kecil merupakan sumur asli yang digali pada tahun 1985. Sedangkan sumur yang lebih besar digali pada tahun 2002 setelah sumur kecil kurang memadai untuk melayani peziarah. Para peziarah boleh mengambil air sumur dengan wadah kendi kitiran mas yang disediakan dan memberikan donasi. Gereja St Maria Assumpta ini berlokasi di Jl Kaliurang km 17, Pakem, Kaliurang, di jalan utama menuju tempat wisata Kaliurang.

8. Gua Maria Sendang Jatiningsih

Gua Maria Jatiningsih

Jatiningsih

Gua Maria Sendang Jatiningsih berlokasi di Dusun Jitar, Desa Sumber Arum, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman, DIY. Sesuai dengan namanya, tempat ziarah ini dipenuhi dengan pohon jati. Dalam keteduhan pohon-pohon jati yang rindang dan kemerisik daun yang ditiup angin, kompleks Gua Maria Sendang Jatiningsih ini dibangun dalam kesederhanaan. Semua bangunannya berbentuk pendopo terbuka tanpa dinding, dengan tiang dari kayu jati dan genting tanah. Satu-satunya bangunan dengan keramik hanyalah pendopo utama yang digunakan sebagai altar untuk merayakan ekaristi. Di sebelah kiri altar, terdapat Gua Maria dengan pohon-pohon jati di belakangnya. Di Sendang Jatiningsih ini juga terdapat mata air yang dialirkan melalui keran-keran. Air yang mengalir ini dinamakan “Tirta Wening Banyu Panguripan”

PUNCAK BECICI Senja yang Tersembunyi di Balik Deretan Pinus Merkusii

TersembSaat YogYES memacu kendaraan ke arah selatan Jogja, sengatan matahari masih terasa membakar kulit meskipun posisinya mulai bergeser ke arah barat. Setelah memasuki kawasan Desa Muntuk, barulah kegarangannya mulai tergantikan dengan teduh dan sejuknya udara perbukitan. Pemandangan lahan-lahan terasering yang kemudian berlanjut dengan deretan pohon-pohon pinus menemani sisa perjalanan YogYES ke tempat tujuan hingga kami mendapat sambutan berupa gapura selamat datang. Tak jauh dari gapura, beberapa gubuk sederhana tampak memenuhi salah satu bahu jalan, berderet rapi berdampingan. Di gubuk-gubuk sederhana itulah warga setempat menjamu para pengunjung kawasan wisata Puncak Pinus Becici dengan minuman dan makanan ringan yang dijual.

Roda-roda kendaraan kami masih melaju hingga ujung jalan bersemen, tempat kendaraan-kendaraan pengunjung lain diparkir. Selanjutnya kami masih harus berjalan melalui jalan setapak masuk ke dalam bagian hutan pinus yang lebih rapat. Menurut salah satu anggota pokdarwis setempat, hutan pinus yang dikenal sebagai daerah Hutan Sudimoro 1 atau Becici Asri ini masih merupakan bagian dari Hutan Lindung di bawah pengelolaan RPH Mangunan. Berbeda dengan Hutan Pinus Mangunan yang lebih dulu populer sebagai kawasan wisata, Becici Asri awalnya hanya dikelola sebagai hutan produksi penghasil getah pinus untuk bahan dasar terpentin dan gondorukem. Namun panorama dari bukit di bagian baratlah yang membuat orang-orang berdatangan untuk menikmati keindahannya hingga kawasan ini pun berubah menjadi destinasi wisata.

Nama Becici yang terdengar asing di telinga pun sebenarnya memiliki cerita sejarah tersendiri. Becici berasal dari gabungan kata “ambeg” yang berarti berdiam diri dan kata suci, dua kata yang merujuk pada cerita turun temurun kepercayaan masyarakat setempat. Cerita tentang putra pendiri Desa Muntuk yang bertapa di bukit di bagian barat hutan pinus dan kemudian ingin disemayamkan di bukit yang sama ketika meninggal dunia. Terlepas dari benar tidaknya cerita tutur ini, di puncak Bukit Becici memang ditemukan sebuah petilasan menyerupai makam.

Suara daun pinus yang bergesekan diterpa angin menjadi melodi alam yang menemani perjalanan kami menembus hutan pinus. Hanya perlu waktu sekitar lima belas menit dari parkiran untuk mencapai puncak Bukit Becici. Tak hanya barisan pohon-pohon pinus tinggi menjulang, kami juga menemui bangku-bangku dari batang pinus, ayunan kayu, beberapa gazebo sederhana dan gardu pandang dengan pengamanan ala kadarnya di sepanjang tepi jalan setapak. Terdapat pula area datar yang lumayan luas untuk bermain serta camping ground dengan jarak pohon pinus yang tak terlalu rapat. Semakin dekat dengan puncak bukit, jarak pohon-pohon pinus ini pun semakin renggang. Hingga matahari yang tadinya terhalang daun-daun pinus pun kembali menampakkan diri, semakin condong ke arah barat namun masih bersinar penuh semangat. Menyilaukan setiap mata yang mencoba menatapnya.

Puncak Becici memang spot yang tepat untuk menikmati saat-saat matahari terbenam karena bukit ini menghadap ke arah barat. Tak heran ketika kami tiba di puncak, sudah banyak orang yang menunggu momen-momen pergantian siang menuju malam. Ada yang terlihat asik berfoto di atas gardu pandang. Beberapa lainnya tampak berfoto di tepi tebing dekat dengan pagar besi pengaman. Sementara ada pula yang terlihat duduk-duduk di gazebo dan bangku-bangku dari kayu pinus yang tumbang. Mungkin menunggu giliran untuk berpose di atas gardu pandang. Sebuah ayunan tak berpenghuni pun menjadi pilihan saya untuk menikmati landscape yang disuguhkan sambil menunggu kesempatan menaiki gardu pandang.

Matahari semakin rendah ketika tiba giliran saya mencoba menaiki gardu pandang. Dengan ekstra hati-hati karena tak ada perlengkapan semacam tali pengaman, saya akhirnya bisa duduk di atas papan yang dibangun pada sebatang pohon pinus ini. Ada sensasi menggelitik ketika tempat yang saya pijak ini sedikit bergoyang diterpa angin. Namun tak ingin menyia-nyiakan waktu menunggu giliran yang lumayan panjang, saya mencoba melawan rasa takut dengan bertahan sedikit lebih lama duduk di atas gardu pandang hingga langit semakin gelap dan matahari pun mulai menyelimuti dirinya dengan awan-awan lembut di batas cakrawala. Tak ingin buru-buru beranjak, kami menunggu hingga langit benar-benar gelap, menunggu hingga bintang-bintang imitasi mulai bermunculan dan berpendar cantik mengisi bidang-bidang gelap di bawah kami.

unyi di balik deretan tanaman pinus merkusii yang tumbuh menjulang, langit senja di Bantul terlihat begitu mempesona. Dan ketika gelap datang, panorama lautan bintang-bintang imitasi pun membuat siapa saja yang memandang berdecak penuh kekaguman.

Saat YogYES memacu kendaraan ke arah selatan Jogja, sengatan matahari masih terasa membakar kulit meskipun posisinya mulai bergeser ke arah barat. Setelah memasuki kawasan Desa Muntuk, barulah kegarangannya mulai tergantikan dengan teduh dan sejuknya udara perbukitan. Pemandangan lahan-lahan terasering yang kemudian berlanjut dengan deretan pohon-pohon pinus menemani sisa perjalanan YogYES ke tempat tujuan hingga kami mendapat sambutan berupa gapura selamat datang. Tak jauh dari gapura, beberapa gubuk sederhana tampak memenuhi salah satu bahu jalan, berderet rapi berdampingan. Di gubuk-gubuk sederhana itulah warga setempat menjamu para pengunjung kawasan wisata Puncak Pinus Becici dengan minuman dan makanan ringan yang dijual.

Roda-roda kendaraan kami masih melaju hingga ujung jalan bersemen, tempat kendaraan-kendaraan pengunjung lain diparkir. Selanjutnya kami masih harus berjalan melalui jalan setapak masuk ke dalam bagian hutan pinus yang lebih rapat. Menurut salah satu anggota pokdarwis setempat, hutan pinus yang dikenal sebagai daerah Hutan Sudimoro 1 atau Becici Asri ini masih merupakan bagian dari Hutan Lindung di bawah pengelolaan RPH Mangunan. Berbeda dengan Hutan Pinus Mangunan yang lebih dulu populer sebagai kawasan wisata, Becici Asri awalnya hanya dikelola sebagai hutan produksi penghasil getah pinus untuk bahan dasar terpentin dan gondorukem. Namun panorama dari bukit di bagian baratlah yang membuat orang-orang berdatangan untuk menikmati keindahannya hingga kawasan ini pun berubah menjadi destinasi wisata.

Nama Becici yang terdengar asing di telinga pun sebenarnya memiliki cerita sejarah tersendiri. Becici berasal dari gabungan kata “ambeg” yang berarti berdiam diri dan kata suci, dua kata yang merujuk pada cerita turun temurun kepercayaan masyarakat setempat. Cerita tentang putra pendiri Desa Muntuk yang bertapa di bukit di bagian barat hutan pinus dan kemudian ingin disemayamkan di bukit yang sama ketika meninggal dunia. Terlepas dari benar tidaknya cerita tutur ini, di puncak Bukit Becici memang ditemukan sebuah petilasan menyerupai makam.

Suara daun pinus yang bergesekan diterpa angin menjadi melodi alam yang menemani perjalanan kami menembus hutan pinus. Hanya perlu waktu sekitar lima belas menit dari parkiran untuk mencapai puncak Bukit Becici. Tak hanya barisan pohon-pohon pinus tinggi menjulang, kami juga menemui bangku-bangku dari batang pinus, ayunan kayu, beberapa gazebo sederhana dan gardu pandang dengan pengamanan ala kadarnya di sepanjang tepi jalan setapak. Terdapat pula area datar yang lumayan luas untuk bermain serta camping ground dengan jarak pohon pinus yang tak terlalu rapat. Semakin dekat dengan puncak bukit, jarak pohon-pohon pinus ini pun semakin renggang. Hingga matahari yang tadinya terhalang daun-daun pinus pun kembali menampakkan diri, semakin condong ke arah barat namun masih bersinar penuh semangat. Menyilaukan setiap mata yang mencoba menatapnya.

Puncak Becici memang spot yang tepat untuk menikmati saat-saat matahari terbenam karena bukit ini menghadap ke arah barat. Tak heran ketika kami tiba di puncak, sudah banyak orang yang menunggu momen-momen pergantian siang menuju malam. Ada yang terlihat asik berfoto di atas gardu pandang. Beberapa lainnya tampak berfoto di tepi tebing dekat dengan pagar besi pengaman. Sementara ada pula yang terlihat duduk-duduk di gazebo dan bangku-bangku dari kayu pinus yang tumbang. Mungkin menunggu giliran untuk berpose di atas gardu pandang. Sebuah ayunan tak berpenghuni pun menjadi pilihan saya untuk menikmati landscape yang disuguhkan sambil menunggu kesempatan menaiki gardu pandang.

Matahari semakin rendah ketika tiba giliran saya mencoba menaiki gardu pandang. Dengan ekstra hati-hati karena tak ada perlengkapan semacam tali pengaman, saya akhirnya bisa duduk di atas papan yang dibangun pada sebatang pohon pinus ini. Ada sensasi menggelitik ketika tempat yang saya pijak ini sedikit bergoyang diterpa angin. Namun tak ingin menyia-nyiakan waktu menunggu giliran yang lumayan panjang, saya mencoba melawan rasa takut dengan bertahan sedikit lebih lama duduk di atas gardu pandang hingga langit semakin gelap dan matahari pun mulai menyelimuti dirinya dengan awan-awan lembut di batas cakrawala. Tak ingin buru-buru beranjak, kami menunggu hingga langit benar-benar gelap, menunggu hingga bintang-bintang imitasi mulai bermunculan dan berpendar cantik mengisi bidang-bidang gelap di bawah kami.

Letter of Appointment

Dear Miss Agatha

Thank you for attending the interview on 30th March with our Personnel Manager. We are pleased to offer you the post of Junior Secretary to our Director at an initial salary of Rp. 750.000,- per month.

As already told to you during the interview, the working hours are 7.00 a.m. to 4.00 p.m., 5 days a week, with one hour for lunch. You will be entitled 3 weeks paid holiday.

Please confirm immediately in writing that this appointment is acceptable on the above terms and conditions. Also mention the date when you would join your duty, but it should be within a stipulated period.

We look forward to your happy and fruitful career with us.

Yours sincerely,

Letter of Acceptance

Dear Aghata,

With reference to your interview on Tuesday, march 30, at 9 a.m., I am pleased to confirm the offer of a position as a junior secretary in our company effective from 1st may.

Please study the enclosed contract of employment. We require that you sign all the pages marked and return this to us at your earliest convenience. If you have any questions, please contract our office.

I am looking forward to seeing you, and thank you for your cooperation.

Yours sincerely,