GEREJA GANJURAN dan DOA PERMOHONAN ANGIN SIWIR SIWIR

Gereja Hati Kudus Yesus merupakan gereja Katolik Roma di Ganjuran, Bantul, Indonesia. Gereja ini juga dikenal dengan nama Gereja Ganjuran, berdasarkan tempat letaknya. Gereja ini merupakan gereja tertua di Bantul.
Gereja Ganjuran didirkan pada tanggal 16 April 1924 oleh keluarga Schmutzer, yang memiliki sebuah pabrik gula di wilayah itu. Dari jumlah 25 orang Katolik di Ganjuran pada tahun 1922, pada tahun 2011 sudah ada 8.000. Gedung gereja sudah banyak diubah, termasuk dibangun ulang setelah Gempa bumi Yogyakarta 2006. Banyak orang sudah menulis tentang desainnya yang beraliran Jawa, dan gereja ini terus memasuki budaya Jawa dalam liturgi.
Gereja Ganjuran terletak di Ganjuran, Bambanglipuro, Bantul, 17 kilometer di sebelah selatan kota Yogyakarta. Gereja ini dibangun di tanah seluas 2,5 hektare dan termasuk tempat parkir, candi, gereja, pastoran, dan beberapa bangunan lain. Pada tahun 2011 ada sebanyak 8.000 anggota; sebagian besar merupakan petani, pedagang, dan buruh.
Gedung gereja dibuat dengan gaya joglo dan dihiasi dengan ukiran gaya Jawa yang menutupi 600 meter per segi. Ini termasuk ukiran nanas dari kayu serta ukiran berbentuk jajar genjang yang disebut wajikan.Altarnya dihiasi dengan malaikat yang berbusana tokoh wayang orang. Karena gaya arsitektur ini, ilmuwan Belanda M. C. Ricklefs menyatakan bahwa gereja di Ganjuran mungkin merupakan manifestasi penyesuaian gereja Katolik di Jawa yang paling menonjol. Ilmuwan Jan S. Aritonang dan Karel A. Steenbrink menyatakan bahwa gereeja merupakan “produk paling spektakular … dari kesenian pribumi yang dibantu orang Eropa
Tanah yang sedang digunakan untuk gereja Ganjuran dulunya bagian dari pabrik gula milik saudara Joseph dan Julius Schmutzer, dua orang Belanda. Pada tahun 1912 mereka mulai menjaga hak buruh sebagaimana ditentukan dalam Rerum Novarum; mereka juga mulai mendirikan sarana pendidikan di wilayah tersebut, dengan tujuh sekolah untuk laki-laki dibuka pada tahun 1919 dan sekolah perempuan dibuka pada tahun 1920. Mereka juga mendorong staff mereka untuk masuk agama Katolik.Dengan hasil dari pabrik mereka, keluarga Schmutzer mendirikan Ruma Sakit St Elisabeth Hospital di Ganjuran. Mereka juga mendirikan Onder de Bogen (kini Rumah Sakit Umum Panti Rapih) di kota Yogyakarta. St Elisabeth sedang diurus oleh Orda Carolus Borromeus.
Juga pada tahun 1920, Pr. van Driessch, seorang Yesuit yang pernah mengajar di Kolese Xaverius di Muntilan, mulai berkhotbah di Ganjuran dan mendirikan komunitas Katolik di sana. Hingga tahun 1922 ada sebanyak 22 orang Katolik keturunan Jawa di sana; jumlah ini meningkat dengan cepat. Pada tanggal 16 April 1924 keluarga Schmutzers mendirikan gereja di tanah mereka, dengan van Driessch sebagai pastor pertama. Ukiran dan bagian gereja lain dikerjakan oleh seorang seniman Jawa yang bernama Iko.
Patung Yesus sebagai raja Jawa
Tiga tahun kemudian masyarakat mulai membangun sebuah candi setinggi 10 meter, mirip candi yang ada di Prambanan; Iko membuat patung Maria dan Yesus yang menggambarkan mereka sebagai penguasa dan guru Jawa. Patung ini diukir dengan motif batik. Batu diambil dari kaki Gunung Merapi di bagian utara, sementara pintu masuk diarahkan ke Selatan; orientasi ini mencerminkan kepercayaan orang Jawa pada harmoni utara dan selatan. Candi ini diresmikan pada tanggal 11 Februari 1930 oleh Uskup Batavia Antonius van Velsen.
Van Driessch meninggal pada tahun 1934 dan diganti oleh Pr. Albertus Soegijapranata; Soegijapranata bertugas sekalian sebagai pastor Ganjuran dan Bintaran. Pada tahun ini jumlah orang Katoliknya sudah mencapai 1.350 orang. Keluarga Schmutzer kembali ke Belanda pada tahun yang sama. Selama Revolusi Nasional Indonesia pabrik gula dibakar habis, tetapi sekolah, gereja, dan rumah sakit selamat. Pada tahun 1947 Pr. Justinus Darmojuwono mulai menjabat; dia menjadi pastor sampai tahun 1950.
Pada tahun 1981 pastoran diperluas di bawah Pr. Suryosudarmo,dan tujuh tahun kemudian, di bawah Pr. Gregorius Utomo, gereja ini mulai lebih menekankan pengaruh Jawanya. Pada tahun 1990 Konferensi Federasi Uskup Asia mengadakan sebuah seminar mengenai masalah pertanian dan petani di Gereja Ganjuran. Sejak 1995 Gereja lebih menekankan pembangunan candinya, dan dengan sumbangan dari masyarakat sudah menambahkan 15 relief yang menggambarkan Jalan Salib; relief ini awalnya dirancang oleh keluarga Schmutzer.Setelah gereja lama dihancurkan oleh gempa bumi besar pada bulan Mei 2006, gereja ini dibangun ulang dengan gaya Jawa. Pembangunan ulang ini menghabiskan sebanyak Rp 7 miliar.
Program gereja termasuk missa, bakti sosial, dan perayaan khusus.Liturginya bisa dalam bahasa Jawa atau bahasa Indonesia, dan kadang-kadang baju Jawa diwajibkan. Ada pula musik gamelan serta kroncong. Sumber : Wikipedia
Advertisements

GUA MARIA SENDANG LAWANGSIH – YOGYAKARTA

Suatu ketika ada peziarah yang bertanya kepada saya; “Romo, Goa Maria Lawangsih, begitu indah, eksotik, mempesona, dan penuh nuansa sakral yang membawa saya dalam kedamaian iman. Sungguh saya sangat tersentuh dengan Goa Maria Lawangsih. Sebenarnya siapa arsitek dan perancang Goa Maria Lawangsih ini Romo?” Saya terdiam, dan setelah mengambil nafas dalam-dalam, saya tersenyum mengatakan; “Tuhan sendirilah Sang Arsitek, Sang Perancangnya….”

DEMOGRAFI

Gua Maria Lawangsih terletak di Perbukitan Menoreh, perbukitan yang memanjang, membujur di perbatasan Jawa Tengah dan DIY, (Kabupaten Purworejo dan Kulon Progo). Di tengah perbukitan Menoreh, bertahtalah Bunda Maria Lawangsih (Indonesia: Pintu/Gerbang Berkat/Rahmat). Gua Maria Lawangsih berada di dusun Patihombo, Desa Purwosari, Kecamatan Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo. Secara gerejawi, masuk wilayah Stasi Santa Perawan Maria Fatima Pelemdukuh,Paroki Santa Perawan Maria Nanggulan, Kevikepan Daerah Istimewa Yogyakarta, Keuskupan Agung Semarang. Lokassi Goa Lawangsiih hanya berjarak 20 km dari peziarahan Katolik Sendangsono, 13 km dari Sendang Jatiningsih Paroki Klepu.

SEJARAH

Goa Maria Lawangsih adalah Goa Maria yang pada awalnya adalah sebuah goa Lawa (Goayang penuh dengan Kelelawar), yang memang diyakini sudah diketahui oleh penduduk sekitar sebagai tempat petani mencari pupuk dari kotoran Kelelawar. Sebelum ditetapkan sebagai Goa Maria, goa ini adalah sebuah goa alami biasa yang merupakan tempat tinggal kelelawar. Dalam bahasa Jawa kelelawar disebut “Lawa”. Goa ini dihuni oleh banyak kelelawar, maka tidak heran bila nama goa ini adalah Goa Lawa.Tidak diketahui secara pasti, kapan Goa Lawa ini dimasuki oleh penduduk.

Awalnya, Goa Lawa hanyalah tanah grumbul (semak belukar) yang memiliki lubang kecil di pintu goa (+1 m2), namun lorong-lorongnya bisa dimasuki oleh manusia untuk mencari kotoran Kelelawar sampai kedalaman yang tidak terhingga. Namun karena faktor tidak adanya penerangan dan suasana dalam goa yang pengap, maka tidak banyak penduduk yang bisa masuk ke dalam goa. Pada tahun 1990-an, Goa Lawa sempat dijadikan oleh Muda-Mudi Stasi Pelemdukuh untuk tempat memulai berdoa Jalan Salib (Stasi), namun setelah itu tidak ada perkembangan yang berarti sampai tahun 2008.

Pada bulan Juli 2008, Goa Lawa yang semula milik keluarga T. Supino (Ketua Stasi SPM Fatima Pelemdukuh), telah dihibahkan kepada Gereja. Pembangunan Goa Maria Lawangsih untuk menjadi tempat berdoa (Panti Sembahyang) adalah atas inisiatif Romo Paroki Santa Perawan Maria Tak Bernoda Nanggulan ini yaitu Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr, setelah beberapa kali masuk dan meneliti kemungkinan Goa Lawa menjadi tempat doa. Pada awalnya, Romo Ignatius Slamet Riyanto, hanya ingin menjadikan tempat yang awalnya “dianggap keramat” oleh penduduk sekitar, menjadi tempat yang nyaman bagi umat sekitarnya untuk berdoa. Namun rupanya ada banyak orang yang tahu dari mulut ke mulut (Jawa: gethok tular) tentang keberadaan tempat ziarah ini, sehingga makin lama semakin banyak peziarah yang datang dari Bandung, Surabaya, Lampung, Jakarta, Semarang, dan kota-kota besar lainnya, bahkan berdasarkan data dari buku tamu yang disediakan beberapa kali ada peziarah dari luar negeri (Belanda, Perancis dan Australia) yang datang ke sana.

Pembangunan yang diprakarsai oleh tokoh-tokoh umat dan didukung keinginan umat untuk memiliki tempat berdoa di tempat terbuka dan memiliki sumber air, begitu besar, sehingga membuat hibah tanah dan Goa Lawa menjadi suatu pilihan yang menarik untuk ditindaklanjuti. Langkah yang diambil pihak Gereja adalah dengan dibangunnya goa tersebut menjadi suatu tempat berdoa yang diinginkan umat. Sejak saat itu, tanah di sekitar Goa Lawa dibersihkan, yang pada awalnya hanyalah sebuah lubang/goa kecil, tanah yang berada di sekitarnya digali, hingga akhirnya lubang di sekitar goa bisa menjadi seperti saat ini. Batu besar ( + 8m2) dan tanah yang menutup lubang goa perlahan-lahan dibongkar dan dibersihkan.

Pengerjaan Goa tidak menggunakan alat-alat berat/modern. Di sinilah mukjizat itu terjadi. Selama hampir satu tahun, umat Katolik dan warga sekitar Goa Lawa bekerja bersama, menggali tanah, mengangkat, membersihkan dan membuat Goa menjadi seperti saat ini. Semua dilakukan dengan penuh semangat, kerjasama dan pelayanan. Nama Goa Lawa ingin dipertahankan oleh umat, agar menjadi prasasti bagi tempat peziarahan umat Katolik. Akhirnya, Goa Lawa diberi nama baru: GOA MARIA LAWANGSIH.

Lawangsih dapat diartikan demikian. Kata Lawang dalam Bahasa Jawa mengandung arti pintu, gapura atau gerbang. Kata sih (asih) artinya kasih sayang, cinta, berkat, rahmat. Secara rohani, Lawangsih menunjuk makna Bunda Maria sebagai gerbang surga, pintu berkat. Dalam keyakinan kita, Bunda Maria adalah perantara kita kepada Yesus (per Maria ad Jesum), Putranya yang telah menebus dosa manusia dan membawa pada kehidupan kekal.

Pada bulan Mei 2009, untuk pertama kalinya Goa Lawa ini dipakai menjadi tempat Ekaristi penutupan Bulan Maria, namun dengan memakai tempat dan peralatan seadanya. Barulah pada tanggal 01 Oktober 2009, tempat peziarahan ini dibuka untuk umum dan diresmikan oleh Rm. Ignatius Slamet Riyanto, Pr. Patung Bunda Maria yang merupakan bantuan dari donatur, ditahtakan di dalam goa. Sebelum Patung Bunda Maria diboyong dan ditahtakan di Goa Maria Lawangsih, selama 3 hari, setiap malam umat “tirakat” dan berdoa Novena serta banyak umat yang “lek-lek-an” (laku prihatin) di Goa Maria Lawangsih untuk memohon karunia Roh Kudus agar menjadikan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat bagi semua orang yang datang ke sana, mendapatkan berkat, memperoleh kekuatan rohani dan semakin dekat dengan Yesus melalui Maria. (Per Mariam Ad Jesum. Melalui Maria sampai pada Yesus). Romo Ignatius Slamet Riyanto, Pr pun selama selama 3 malam berturut-turut juga ikut bergabung dan berdoa bersama umat, tirakat di Goa Maria Lawangsih.

Perarakan “Mboyong Sang Ibu” diikuti oleh 700an umat Stasi SPM Fatima Pelemdukuh dan sekitarnya. Ekaristi yang dilakukan pada tanggal 01 Oktober 2009 diawali dari Gereja (yang berjarak 500 m), dengan mengarak patung Bunda Maria menuju Goa Maria Lawangsih. Semua umat mengarak Bunda Maria dengan penuh keheningan (wening ing bathin), berdoa di dalam batin mohon karunia Roh Kudus agar memberkati umat dalam peziarahan di dunia ini. Umat juga berdoa agar tempat peziarahan Goa Maria Lawangsih menjadi tempat mereka menimba kekuatan iman, agar mampu menghadapi tantangan kehidupan ini. Ekaristi dengan menggunakan Bahasa Jawa dan iringan gamelan menambah aura rohani merebak di Goa Maria Lawangsih. Pukul 16. 00 WIB, Bunda Maria diberkati dan ditahtakan. Banyak umat meneteskan air mata, tatkala Sang Ibu, dengan penuh senyum mengundang umat untuk berdoa dengan perantaraannya.

Seusai Ekaristi, umat berhamburan berdoa di hadapan Bunda Maria dan berebut masuk ke dalam Goa Lawangsih, dimana kemahabesaran Allah sungguh nyata. Sebuah karya nan indah dari Sang Arsitek membuat umat terpana. Karya Tuhan sungguh mahaindah. Sebuah goa yang penuh dengan stalagtit dan stalagmit dengan gemercik air yang keluar dari sumber air di dalam Goa. Di sebelah kanan Bunda Maria Lawangsih, ada goa yang cukup luas, memanjang sampai kedalaman yang tak terhingga, penuh dengan suasana sakral. Di belakang Bunda Maria Lawangsih, terdapat goa yang lebih indah dengan sumber air di dalamnya. Sayang, goa ini agak sempit di luarnya, namun semakin ke dalam semakin luas dan penuh dengan pemandangan yang eksotik.

Akhirnya, saat ini umat Paroki SPM Tak Bernoda Nanggulan sudah memiliki Goa Maria Lawangsih sebagai rangkaian dari Goa Maria Pengiloning Leres yang sudah ada.

CIKAL BAKAL GOA MARIA LAWANGSIH

Goa Maria Lawangsih merupakan langkah peziarahan iman umat Stasi SPM Fatima Pelemdukuh, yang selama ini berdoa kepada Bunda Maria di Goa Maria Pengiloning Leres (Cermin Kebijaksanaan), sebuah Goa Maria di atas Kapel Stasi SPM Fatima Pelemdukuh. Goa Pengiloning Leres adalah cikal bakal Goa Maria Lawangsih, merupakan goa alam, namun hanya kecil. Letak Goa Pengiloning Leres yang berada di atas Kapel SPM Fatima Pelemdukuh, tidak terlalu jauh dari Goa Maria Lawangsih.

Di samping goa, bertahtalah Patung Kristus Raja yang memberkati yang tingginya 3 meter. Di belakang goa terdapat ruang doa yang cukup luas, bersih, dan teduh. Goa ini berada lebih tinggi daripada Kapel Stasi SPM Fatima. Legenda yang berkembang mengatakan bahwa bukit di Goa Pengiloning Leres ini adalah (Jawa: gedogan) kandang Kuda Sembrani. Banyak orang mengalami peristiwa bahwa hampir setiap Malam Jumat Kliwon atau Selasa Kliwon mendengar suara gaduh, (Jawa: pating gedobrak). Konon katanya, goa ini dulunya dipakai oleh para makhluk halus sebagai kandang kuda Sembrani. Hal ini terbukti dengan adanya sebuah mata air di bagian bawah bukit yang bernama “benjaran” yang berarti tempat minum kuda.

Mengingat tempatnya yang jauh dan terpencil dari kota Yogyakarta, wajar bila Goa Maria Pangiloning Leres tidak banyak dikenal oleh masyarakat di luar Stasi Pelem Dukuh. Medan yang cukup dijangkau karena jalan turun naik yang agak curam dan rusaknya sebagian jalan pada waktu itu menjadi alasan sedikit orang berkunjung ke Goa Maria Pengiloning Leres. Padahal, ada banyak hal-hal yang menarik terdapat di sana. Hal yang hanya terdapat di Stasi Pelem Dukuh, Stasi yang kaya akan pemandangan alam yang asri dan goa alami nan indah. Di bawahnya terdapat Kapel (Gereja) yang sebagian dindingnya adalah Batu Karang (asli) yang ingin menunjukkan bagaimana Gereja yang dibangun Yesus di atas Batu Karang. Bila kita melihat segi arsitekturnya dari sisi luar Kapel, mungkin saja akan kalah bila dibandingkan dengan gereja yang terdapat di kota besar lainnya. Namun, bila kita masuk ke dalam Gereja kita akan melihat beberapa lukisan yang indah dimana Gerbang Kerajaan Surga tergambar indah di dinding. Adapula kisah pembangunan yang penuh perjuangan karena Gereja sulit mendapatkan tanah pada waktu itu. Namun sempat pula Romo YB. Mangunwijaya, Pr sempat meneliti dan mereka-reka arsitektur Kapel Stasi Pelemdukuh yang alami. Namun tidak ada informasi yang tepat, mengapa Romo YB. Mangunwijaya, Pr tidak melanjutkan arsitektur di Kapel tersebut.

Arsitektur yang digunakan oleh Kapel menarik sekali. Penataan batu-batu alami di sisi barat Kapel menambah keasrianya. Pemertahanan bentuk alami batu kapur tanpa tembok ini adalah sesuai dengan anjuran Romo YB. Mangunwijaya yang merupakan arsitek handal. Di belakang Altar dihiasi dengan lukisan-lukisan Gunungan Wayang yang menggambarkan Kerajaan Surga, lukisan Rusa dengan hamparan rumput yang luas menghijau juga terpampang di sebelah kiri altar, di belakang patung Bunda Maria. Di atas sana terpampang gambar lima roti dan dua ikan, yang melambangkan makna berbagi sebagai ungkapan dan perwujudan iman umat.

Bila dilihat dari bawah, Goa Maria Pengiloning Leres ini nampak seperti bahtera. Bahtera Nabi Nuh yang pada zaman dahulu telah menyelamatkan manusia dan mahkluk-makhluk lainnya di atas bumi dari air bah. Bentuk bahtera ini kemudian semakin disempurnakan dengan adanya patung Kristus Raja Semesta Alam sebagai nahkoda bahtera tersebut. Patung ini adalah karya dari Romo A. Tri Wahyono Pr.

Sekarang, lengkap sudah penampilan bahtera tersebut, ada Tuhan Yesus sebagai nahkoda yang selalu membimbing dan memberkati semua umat Katholik di Stasi Pelem Dukuh. Tempat ini kelak menjadi Golgota dan tempat Bunda Maria Berduka Cita memangku Sang Putra yang telah wafat tersalib (pieta). Goa Maria Lawangsih menjadi awal peziarahan umat, menimba kekuatan melalui Bunda Maria, mengikuti jalan Salib Tuhan Yesus dan menuju pada Golgota. Di sana Kristus Raja telah menanti dengan berkatNya yang melimpah.

INFRASTUKTUR

Kekhasan Goa Maria Lawangsih yakni eksotisme goa alamnya. Goa ini sungguh merupakan goa alam kedua di Keuskupan Agung Semarang setelah Goa Maria Tritis Wonosari, Gunungkidul. Seperti yang kita ketahui, tidak banyak tempat doa yang berupa goa yang merupakan goa alami. Kalau pun ada, tidak sebanyak goa buatan. Goa Lawangsih merupakan salah satu goa alami tersebut, goa ini cukup besar, lengkap dengan sungai kecil yang mengalir di dalam goa dan dihiasi oleh stalaktit stalagmit yang indah. Kesan pertama para peziarah ketika kita datang adalah suasana hening yang menyejukkan hati, jauh dari keramaian. Suara gemericik air, kicauan burung, tiupan angin, udara yang sejuk akan membuat kita semakin mensyukuri indahnya ciptaan Tuhan. Suasana ini lah yang membawa kita pada suatu situasi yang sangat mendukung bila ingin memanjatkan doa kepada Tuhan Yesus dan Bunda Maria. Goa Lawangsih juga menambah khasanah dan perbendaharaan tempat peziarahan yang ada di Indonesia umumnya dan Keuskupan Agung Semarang khususnya (http://www.wikipedia.com.)

Goa Maria Lawangsih sama sekali belum tersentuh oleh pembangunan secara modern, sungguh-sungguh alami. Selain itu, goa ini dibangun oleh umat yang secara sukarela setiap hari bekerja bakti, bahu membahu, saling mendukung dengan kerja tangan mereka. Dengan senyum, canda, dan penuh semangat iman, selama hampir satu tahun umat mengolah tanah grumbul (semak belukar) menjadi tempat peziarahan Maria yang sangat indah, dengan bukit-bukit batu di sekitar goa, dengan stalagtit dan stalagmit di dalam goa, dengan gemercik air yang mengalir tiada henti, meski kemarau yang sangat panjang sekalipun.

Pemandangan alam sekitar juga sangat indah. Sejak masuk ke daerah Nanggulan dan selama perjalanan 13 km dari Nanggulan menuju Goa Maria Lawangsih, peziarah akan melihat pemandangan yang indah, perbukitan Menoreh, Gunung Merapi, dan jika melihat arah selatan akan kelihatan pemandangan Pantai Laut Selatan di kejauhan. Pada malam hari, peziarah akan melihat pemandangankota Yogjakarta dengan lampu-lampu yang menambah suasana indah di malam hari. Di sekitar lokasi Goa Maria, juga banyak pemandangan indah, banyak pohon-pohon rindang yang semakin menambah asri tempat Bunda Maria bersemayam, menanti umat berdoa dengan perantaraanNya. Keheningan dan suara gemercik air menjadi pendukung peziarah semakin dekat dengan Allah Sang Pencipta.

Sejauh mata memandang, kita akan menyaksikan rindangnya pohon dan hamparan sawah yang menghijau. Sesekali kicau burung yang bernyanyi memanjatkan syukur kepada Sang Pencipta juga terdengar. Di bawah goa, terdapat sungai yang mengalir membelah dusun. Jauh dari kesan sungai dikota pada umumnya, karena sungai ini begitu jernih walaupun telah melewati luasnya hamparan ladang warga. Air ini tidak biasa digunakan untuk minum, tetapi digunakan untuk kebutuhan pengairan sawah penduduk. Walaupun terkadang dulunya bila sumber-sumber air sudah mengering, sungai ini digunakan untuk mencukupi semua kebutuhan warga. Sekarang, sudah ada kamar mandi sebagai fasilitas penduduk maupun peziarah yang memanfaatkan air dari dalam goa yang jernih. Air ini biasa untuk minum ataupun memenuhi semua kebutuhan hidup. Jadi sungai kecil di bawah goa yang dulunya dipergunakan untuk mandi, Sekarang dikhususkan untuk mengairi sawah.

Di belakang Patung Bunda Maria, terdapat lorong goa yang sangat panjang, dalam dan indah dengan stalagtit dan stalagmit yang mempesona, di dalamnya juga terdapat sumber air yang mengalir tiada henti, jernih dan sejuk, yang selama ini menjadi sumber penghidupan masyarakat sekitar goa Maria. Kelak air ini akan ditampung dan dijadikan tempat “menimba air kehidupan” dan untuk kebutuhan sehari-hari. Sungguh ajaib, Bunda Maria juga memberikan berkatNya. Di depan Bunda Maria, terdapat goa yang cukup lebar, memanjang sampai pada kedalaman yang tak terhingga. Namun sayang, 300 meter setelah pintu goa, sudah menyempit, meski di dalam sana terdapat tempat yang luas dan pemandangan yang sangat indah. Perlu alat modern untuk membuka beberapa batu alam yang menutupi lorong-lorong ke dalam.

Fasilitas untuk peziarah secara umum sudah tersedia meskipun dalam nuansa kesederhanaan.MCK Kamar mandi, WC/toilet, sudah tersedia dengan air yang melimpah. Air jernih dari bawah Bunda Maria dialirkan menuju sebuah bak penyaring yang nantinya menjadi air yang bisa dipakai peziarah untuk dibawa pulang atau untuk diminum langsung. Air ini juga dialirkan ke kamar mandi di bawahnya, sehingga air di kamar mandi/WC sangat jernih dan layak untuk para peziarah. Jalan menuju Goa Maria Lawangsih juga sudah layak untuk menjadi jalan bagi kendaraan peziarah. Pada bulan Nopember 2010, jalan yang melingkar di sekitar Goa Maria Lawangsih sudah diaspal oleh warga di Purwosari.

Perjalanan menuju Goa Maria Lawangsih dapat di tempuh dengan mengendarai sepeda motor, minibus, atau mobil pribadi. Sampai sekarang, bus besar masih sulit untuk menjangkau Goa Maria Lawangsih, karena adanya beberapa tikungan kecil. Apabila menggunakan bus besar/pariwisata, peziarah dapat transit di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Tak Bernoda, Karang, Nanggulan, Kulon Progo, Yogyakarta. Apabila menggunakan bus umum, peziarahan dapat naik bus umum baik dari kota Jogja, Wates, Muntilan dengan mengambil jurusan Nanggulan. Turun di perempatan Kenteng, naik ojek 25 menit sudah sampai lokasi (pintu gerbang peziarahan Goa Maria Lawangsih). Apabila peziarah datang menggunakan mobil, dari arah manapun, menuju Nanggulan. Di perempatan Kenteng ke arah Barat 13 km, dengan jalan hotmix (8 km) dan dilanjutkan jalan desa (aspal) 4 km. Minibus dan mobil pribadi bisa mencapai Goa Maria Lawangsih 15-30 menit, dan bisa diparkir di sekitar Goa. Peziarah cukup berjalan 50-100 meter dari tempat parkir, dari pintu masuk ke tempat ziarah, peziarah cukup berjalan 25 trap tangga dari semen. (Catatan: peziarah sudah bisa mencapai Goa Maria Lawangsih dengan mengikuti rambu penunjuk jalan dari traffick light di Kenteng sampai dengan lokasi Goa Maria Lawangsih).

sumber : http://guamarialawangsihnanggulan.blogspot.com

PATUNG BUNDA MARIA TERBESAR & GUA MARIA KEREP AMBARAWA

Gua Maria Kerep Ambarawa menjadi tempat pilihan umat untuk bersama Bunda Maria berdoa kepada Bapa agar semakin mengenal, mencintai dan mengikuti Yesus Kristus.

 
Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) secara administratif berada di Jalan Tentara Pelajar, Dusun Kerep, Kelurahan Panjang, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Sebelum memasuki Jalan Tentara Pelajar, kita berada di jalan Mgr. Soegijapranata yang membentang dari museum Palagan sampai desa Ngampin.
 
Secara geografis, GMKA terletak di perbukitan sebelah selatan lereng Gunung Ungaran. Pepohonan nan rimbun masih begitu lebat menghiasi wajah bukit ini. Dari lereng inilah tampak hamparan Kota Ambarawa, lembah yang berupa bentangan sawah dan kilauan air Rawa Pening dengan pemandangan yang sangat indah dan mempesona.
 
Berdiri di depan gerbang kompleks GMKA dan memandang nan jauh ke arah selatan, tampak Kota Ambarawa berlatar belakang Gunung Telomoyo dan Gunung Merbabu. Bila malam hari tiba, pemandangan berubah menjadi gemerlap lampu-lampu aneka warna. Dari gerbang ini pula terlihat menara Gereja Jago atau Gereja Santo Yusuf Ambarawa.
 
Di sebelah Gua Maria ada jalan lintas ke desa lain, dan saat ini dapat dilewati kendaraan bermotor maupun angkutan desa menuju tempat wisata Candi Gedong Songo. Angkutan ini juga merupakan sarana transportasi bagi peziarah yang datang dengan berkendara bus. Peziarah biasanya turun di terminal Ambarawa, dan berganti naik angkutan desa. Meski dilewati angkutan umum, keheningan suasana di kompleks Gua Maria Kerep Ambarawa masih tetap terjaga.
 
Peziarah pejalan kaki bisa sekaligus melakukan doa Jalan Salib yang dimulai dari Pasturan Paroki Santo Yusuf Ambarawa sebagai stasi (perhentian) I. Selanjutnya doa Jalan Salib dilakukan dengan menyusuri persawahan, rumah penduduk, dan perladangan. Ada sekitar 1,2 km jarak yang ditempuh oleh para peziarah yang ber-Jalan Salib. Perjalanan melalui jalur ini memang terasa cukup melelahkan. Namun, perjalanan ini terasa sangat sakral apabila peziarah dapat melaksanakan Jalan Salib dengan bersungguh hati.
 

Gua Maria Kerep Ambarawa berbeda dengan Gua Maria di tempat lain yang berdiri di sekitar sumber air. GMKA berada di pekarangan yang agak tinggi dan tandus. Sumber air yang ada di pekarangan ini ditemukan pada tahun 90-an dengan kedalaman sekitar 100 meter di bawah tanah.
 
Sejarah
 
Gua Maria Kerep Ambarawa (GMKA) termasuk pendahulu bagi munculnya gua-gua Maria di Indonesia setelah Gua Maria Sendangsono di Kabupaten Kulonprogo (DIY) dan Gua Maria Sriningsih di Kabupaten Klaten Jawa Tengah.
 
Gua yang didirikan tahun 1954 ini lahir dengan sejarah yang sangat sederhana dan juga tidak berdasarkan suatu penampakan.
 
Meski demikian gua ini tak dapat dikatakan terjadi secara kebetulan. Semuanya terjadi pasti karena kehendak Tuhan yang sudah mempunyai rencana bagi umat manusia di Ambarawa khususnya dan di seluruh Indonesia pada umumnya.
 
Kelahiran GMKA tak bisa lepas dari seorang berwarganegara Belanda yang bertugas sebagai pengelola perkebunan di sekitar Ambarawa yang telah mempersembahkan tanah dan rumahnya kepada Gereja. Oleh Gereja tanah dan rumah ini diberikan kepada Kongregasi Bruder Para Rasul atau Bruder Apostolik.
 
Kongregasi ini didirikan oleh Mgr Albertus Soegijapranata dan beranggotakan orang-orang pribumi serta berstatus sebagai kongregasi keuskupan. Sayang kongregasi ini tidak dapat bertahan lama karena tak ada lagi peminatnya hingga akhirnya dibubarkan. Di tanah biara inilah Gua Maria Kerep Ambarawa didirikan.
 
Pembangunan GMKA juga terkait erat dengan surat gembala Sri Paus pada tahun 1954. Surat gembala itu berisi tentang penetapan tahun itu sebagai Tahun Maria dalam rangka pengenangan 100 tahun usia dogma “Maria Terkandung Tanpa Noda”. Surat Gembala tersebut menghimbau agar semua paroki menyelenggarakan peringatan sebagai penghormatan kepada Bunda Maria.
 
Mantan Direktur Kongregasi Bruder Apostolik, Romo J Reijnders yang saat itu menjadi pastor Paroki Santo Yusuf Ambarawa kemudian menghimbau umat untuk menyelenggarakan perayaan penghormatan kepada Bunda Maria.
 
Dan ketika seorang pastor, yakni Romo Bernardinus Soemarno SJ bertandang ke pasturan, Romo Reijnders sempat melakukan sharing tentang kegiatan dalam rangka perayaan pesta Maria ini. Oleh Romo Bernardinus Soemarno SJ lalu disarankan agar dibuat sebuah gua sebagai tempat devosi kepada Bunda Maria.
 
Ide Romo Bernardinus Soemarno SJ ini kemudian segera direalisasi pada tahun itu juga, yakni tahun 1954. Siswa-siswi sekolah guru yang tinggal di Asrama Bruderan dan Susteran Ambarawa dikerahkan untuk mengumpulkan batu dari sungai Panjang dan dikumpulkan di kebun Bruderan Apostolik Kerep. Menurut Rm Reijnders, Bruder FX Woerjoatmodjo SJ yang waktu itu menjadi kepala asrama dan tinggal di Pastoran Ambarawa ikut memimpin anak-anak. “Dia sangat aktif dan sangat disenangi anak-anak,” tutur Romo Reijnders.
 
Pembangunan Awal
 
fransiskanesTheodorus Darmosuparto, mantan siswa SGB Putra, menceritakan asal mula dibangunnya GMKA. Semula para bruder Apostolik punya kebiasaan melakukan ziarah ke Sendang Sriningsih, Klaten, pada setiap bulan Mei dan Oktober.
 
Pada bulan Mei 1954 para bruder mendapat kejutan dari Romo Koersen SJ. Direktur para Bruder Apostolik itu berkata, mulai saat itu para Bruder tidak usah pergi jauh untuk berziarah. “Di dekat sini ada tempat berziarah. Besok hari Minggu akan datang seorang romo yang akan menunjukkan tempatnya,” katanya.
 
Hari Minggu pagi Romo Koersen SJ datang ke Bruderan Kerep bersama Romo Kester SJ, Sekretaris Keuskupan Agung Semarang. Kedua romo itu dengan diantar para bruder berjalan-jalan di kebun Bruderan. Romo Kester tiba-tiba berhenti di suatu tempat. Para Bruder tetap diam. Sambil menunjuk ke suatu tempat Romo Kester berkata, “di sini supaya Gua Maria dibangun.” Para Bruder tetap diam. Tetapi Br Berchmans, pimpinan para Bruder segera mengambil sebilah bambu dan dibentuk menjadi sebuah salib. Salib tersebut kemudian ditancapkan di tempat yang baru saja ditunjuk Romo Kester.
 
sgbMasih pada hari yang sama, Minggu sore pukul empat, datanglah rombongan para Suster Fransiskanes dari Ambarawa. Para Suster langsung masuk ke kebun Bruderan dan berkumpul di tempat salib bambu ditancapkan. Tiba-tiba terdengar suara para Suster bernyanyi Ave Maria Gratia Plena.
 
Gua Maria Kerep Ambarawa dibangun selama lebih kurang satu tahun. Selama pembuatan melibatkan banyak murid asrama Sekolah Guru Kolese Santo Yusuf dan Sekolah Guru Putri Santa Maria Ambarawa, anak-anak asrama Bruderan dan Susteran. Menurut Garim, alumnus SGB Putra Ambarawa, “Waktu itu bulan November 1953 seluruh siswa SGB diundang untuk bergotong royong sukarela mengambil batu kali.” Mereka dikerahkan oleh guru untuk bergotong royong sukarela secara estafet menaikkan batu kali dari sungai Panjang yang ada di sebelah Timur kompleks GMKA. Jurang tersebut berkedalaman sekitar 75 meter.
 
Para siswa biasanya bergotong royong sore hari sekitar pukul 15.00-17.00 WIB. Gotong royong ini dilakukan lebih dari 6 bulan (Januari-Juni) dengan melibatkan 300 orang siswa. Selain itu mereka juga dibantu oleh kelompok umat Katolik, seperti Kaum Muda Katolik, Wanita Katolik, murid-murid SD Santo Yusuf Ambarawa. Mereka dipimpin langsung oleh Romo PV Weert SJ, Br FX Woerjatmodjo SJ dan Rm Henricus Taks SJ, serta guru-guru.
 
Setelah terkumpul beberapa kubik batu kali, barulah dimulai pembangunan Gua Maria tersebut. Di samping dikerjakan secara gotong royong, juga didukung oleh panitia resmi pada waktu itu yang terdiri dari Romo L Koersen SJ dan Romo Haeken SJ sebagai arsitek, Bruder Vencentiol B Tjiptosutedjo sebagai tata batu, serta dua tukang batu asal Desa Panjang dan Pojok bernama Wirosembodo dan Setro Sentono.
 
GMKA berbentuk gua buatan dengan memakai tumpukan batu kali yang terikat dengan semen, pasir dan kapur. Gua ini menghadap ke Timur dan dinaungi oleh pepohonan yang tinggi dan rindang. Di salah satu guanya terdapat patung Bunda Maria bergaya Lourdes tanpa mahkota.
 
Pembangunan awal selesai kira-kira pada tanggal 25 Juli 1954. Tepat pada hari Minggu tanggal 15 Agustus 1954 Gua Maria Kerep Ambarawa diberkati dan diresmikan oleh Bapak Uskup Agung Semarang Mgr A Soegijapranata SJ. Patung Bunda Maria diberkati dengan air suci dari Lourdes. Nampak sekali bahwa Gua Maria Kerep Ambarawa sejak semula diusahakan agar bisa meniru kesakralan Gua Maria di Lourdes, hal ini tampak pada kemiripan patung Perawan Maria di Lourdes.
 
Bruder FX Woerjoatmodjo SJ, kepala asrama Bruderan, yang kini telah berusia senja masih menyimpan kenangan pembangunan GMKA. “Ya, saya ikut. Saya masih ingat waktu mengajak anak-anak Bruderan mengumpulkan batu-batu dan dibawa naik ke kebun Bruderan Apostolik Kerep,” tuturnya. Dirinya juga masih ingat saat itu ada dua frater Yesuit yang ikut bersama anak-anak, tapi siapa saja frater itu, Bruder Woerjo sudah tidak ingat lagi. Yang paling diingatnya adalah bahwa selesai dibangun lalu diadakan upacara peresmian dan pemberkatan yang dipimpin oleh Mgr Albertus Soegijopranoto SJ, Uskup Agung Semarang. “Tapi waktu itu pembangunan gua belum paripurna. Para Bruder Apostolik yang melanjutkan pembangunannya,” ujarnya.
 
Menurut Benedictus Tjiptosutedjo yang saat itu menjabat sebagai penata batu, upacara peresmian dimulai sekitar pukul empat sore dan dihadiri oleh banyak umat.
 
Prosesi peresmian yang diwarnai dengan hujan ini dimulai dari Gereja Paroki Santo Yusup Ambarawa menuju Goa Maria Kerep. Di lokasi gua inilah Uskup Agung Semarang, Mgr Albertus Soegijopranoto SJ, Uskup Semarang, memimpin upacara pemberkatan gua dan patung Bunda Maria. Selanjutnya diadakan astuti, lof, atau pentahtaan Sakramen Mahakudus. Saat upacara selesai, umat pulang dalam keadaan basah kuyup.
 
Masa Pengembangan
Renovasi Gua
 
soegijaKeterkaitan antara Gua Maria Kerep dengan Gua Maria Lourdes semakin menjadi nyata dengan peristiwa mukjizat yang dialami oleh Ibu Bedjo Ludiro, seorang Katolik dari Paroki Juwana Pati. Beberapa waktu sebelumnya isteri dari Lo Thiam Siang atau Bedjo Ludiro ini mengalami kelumpuhan. Berbagai pengobatan sudah dilakukan namun hasilnya nihil. Suatu ketika mereka berziarah ke Gua Lourdes, Prancis untuk memohon kesembuhan dari Tuhan melalui Bunda Maria. Dan doa mereka pun didengar Tuhan. Ibu Bedjo Ludiro sembuh total dari sakit lumpuhnya.
 
Pada tahun 1981 Lo Thiam Siang ingin mengungkapkan rasa syukurnya kepada Bunda Maria sebagai perantara Illahi karena terkabulnya permohonannya. Ungkapan rasa syukur itu ingin mereka wujudkan dengan membantu biaya renovasi tempat ziarah Gua Maria Kerep Ambarawa. Niat baik itu diterima dan disambut oleh Pastor Kepala Paroki Santo Yusuf Ambarawa Romo C Widajaputranto SJ dan Dewan Paroki, yang waktu itu menjadi pengelola Gua Maria Kerep.
 
Pada renovasi tahap pertama ini bentuk gua diperindah, dibuat lebih mirip dengan Gua Maria di Lourdes. Batu-batu alam yang berasal dari sungai Panjang dipertahankan, tidak dibongkar, tetapi ditutup oleh batu-batu buatan. Setelah renovasi selesai kemudian diberkati oleh Bapak Kardinal Yustinus Darmoyuwono, pada tanggal 4 Oktober 1981.
 
Pada saat itu juga dipasang prasasti di samping kanan altar gua dengan tulisan: “DI SINI, KARUNIA ALLAH MENGALIR DENGAN PERANTARAAN BUNDA MARIA”. Kalimat ini merupakan buah permenungan Bapak Kardinal Yustinus Darmoyuwono. Sejak itu makin banyak umat yang datang berziarah dan mengadakan berbagai kegiatan rohani, seperti Jalan Salib, renungan, rekoleksi, ibadat, ekaristi dan novena.
 
Mengingat Gua Maria Kerep Ambarawa semakin diperlukan guna memenuhi kerinduan umat Katolik, maka dirasa perlu untuk diadakan perawatan, perbaikan serta pengembangan bangunan kompleks Gua Maria Kerep Ambarawan yang lebih memadai. Tanggal 29 Februari 1992 dibentuklah Panitia Pengembangan Gua Maria Kerep Ambarawa – Keuskupan Agung Semarang, berdasarkan Surat Pengangkatan Bapak Uskup Mgr Julius Darmaatmadja SJ Nomor: 132/B/IIb/92.
 
Pengembangan atau penataan kembali Gua Maria Kerep Ambarawa meliputi beberapa fasilitas pendukung untuk kegiatan rohani (rekoleksi, retret, dan pertemuan rohani lainnya). Selain itu juga dibangun stasi-stasi Jalan Salib di kompleks itu di antara pepohonan yang rindang sepanjang musim. Pembangunan renovasi ini akhimya dinyatakan selesai dan diberkati oleh Mgr Julius Darmaatmadja SJ, pada tanggal 15 Agustus 1994 bertepatan dengan hari raya Maria Diangkat ke Surga.
 
Aula, Gedung Transit, dan Ruang Doa
 
Setelah Gua Maria Kerep Ambarawa direnovasi, menyusul pembangunan aula (gedung serba guna), gedung transit, dan ruang doa yang merupakan pengembangan GMKA tahap kedua. Gedung transit itu berlantai dua yang terdiri enam unit. Ruang doa terletak di sudut tenggara kompleks gua dan stasi-stasi Jalan Salib.
 
Pembangunan gedung-gedung ini ditangani oleh Tim Pengelola setempat yang waktu itu diketuai FX Darmadi Hardjono dan Panitia Pembangunan Gua Maria Kerep yang dibentuk tanggal 29 Februari 1992. Panitia Pembangunan ini diteguhkan dengan Surat Pengangkatan dari Bapak Uskup Agung Semarang, nomor 132/B1Vb/92, dengan Ketua Ig Djajus Adisaputro. Sejak saat itu panitia pembangunan yang dibantu oleh Tim Fakultas Teknik Unika Soegijapranata bekerja keras untuk merealisasikan program pembangunan yang telah ditetapkan.
 
Biaya yang digunakan untuk persiapan pembangunan berasal dari para dermawan dan hasil persembahan kolekte misa. Pengalaman terkabulnya doa mendorong para peziarah untuk bersyukur dan bermurah hati. Maka tak mengherankan bila dengan tulus mereka memberikan apa yang menurut mereka hal yang terbaik. Kotak-kotak dana, kolekte misa maupun stipendium, mereka pilih sebagai sarana ungkapan syukur mereka.
 
Jika Yesus pernah mengeluhkan karena ada sepuluh orang kusta yang disembuhkan tetapi hanya satu yang kembali untuk bersyukur dan dia itu seorang Samaria (Luk17:11-19) maka di GMKA Ia tidak demikian. Tak sedikit peziarah dengan tulus hati rela berkurban sebagaimana telah mereka tunjukkan dengan kerelaan berderma.
 
Pembangunan tahap ke dua ini menjadikan GMKA lebih asri dan menawan, sehingga memberikan suasana yang berbeda dari sebelumnya. Umat mulai memperhatikan dan datang berziarah ke GMKA. Luas area keseluruhan GMKA pada saat itu baru mencapai 20.753 m2.
 
Area Parkir
 
Pengembangan Gua Maria tahap ketiga ini dititikberatkan pada penyediaan lahan parkir yang memadai. Sebab sampai dengan tahun 1999 tempat parkir kendaraan roda empat masih menggunakan area seadanya, misalnya lapangan desa, halaman Sekolah Negeri, halaman Bruderan FIC. Bahkan sebagian terminal bis Ambarawa pun dipakai untuk parkir bila sepanjang jalan masuk GMKA sudah penuh dengan deretan kendaraan parkir. Pemandangan ini terkesan semrawut.
 
Situasi ini dipandang sebagai hal yang mendesak untuk diperhatikan, yaitu tersedianya area parkir yang menyatu dan cukup luas. Tim Pengelola Gua Maria Kerep Ambarawa menanggapi kebutuhan tersebut dengan sungguh-sungguh. Maka dibentuklah Tim Pelaksana Pembangunan Area Parkir bekerja sama dengan Tim Teknik Perencana dan UNIKA Soegijapranata Semarang.
 
Seiring dengan pengembangan tahap ini, tim pengelola GMKA juga mengalami pembenahan. Pada tanggal 15 Agustus 1995 pengelola Gua Maria Kerep Ambarawa mengalami pembenahan dan perubahan personalia, berdasarkan Surat Pengangkatan Uskup Agung Semarang, Mgr Julius Darmaatmadja SJ, Nomor 342/B/I/95. Tim Pengelola Gua Maria Kerep Ambarawa adalah sebagai berikut: 
 
Penasehat : Romo Ekonom Keuskupan Agung Semarang
Romo Vikep Kevikepan Semarang
Ketua : Ign Djajus Adisaputro
Wakil Ketua I : FX Darmadi Hardjono
Wakil Ketua II : FX Gunarto
Sekretaris : RC Yunarto Kristantoro
Wakil Sekretaris : FX Koesnan Adiwijoyo
Bendahara : J Kristianto
Wakil Bendahara : P Haryanto
Bidang Kerohanian : Romo St Heruyanto Pr (beserta tim)
Bidang Dana : Drs A Eddy Handoyo, Ir Ign Rudiyanto, dan Ir P Iwan Arman
Bidang Pemeliharaan : Pastor Paroki dan Dewan Paroki Ambarawa
Bidang Pembangunan : Ir E Lukito dan Ir Y Daryanto
 
 Area parkir dibangun di atas tanah seluas 8.500 M2 dengan dana awal (pinjaman) sebesar Rp 200 juta. Direncanakan area parkir ini dapat menampung sebanyak 300 kendaraan roda empat dan 200 kendaraan roda dua. Bersamaan dengan pembangunan area parkir dibangun juga gedung pertemuan yang disebut rumah kaca. Nama ini merujuk pada dindingnya yang full kaca. Rumah kaca ini dilengkapi dengan kamar mandi dan toilet di bagian bawah bangunan ini.
 
Sejalan dengan penetapan tahun 2000 sebagai Tahun Pemuda, dibangun pula camping ground di dekat area parkir. Ini merupakan realisasi dari program Dewan Karya Pastoral ( DKP ) Keuskupan Agung Semarang untuk memfasilitasi kegiatan kaum muda.
 
Di dalam area parkir juga dibangun kios-kios pelayanan (toko) devosionalia sebanyak enam unit untuk memindahkan kios-kios serupa yang sebelumnya menempati halaman Gua Maria Kerep Ambarawa. Selain itu dibangun pula kios-kios untuk PKL (pedagang kaki lima) sebanyak 44 kios untuk para penjual makanan dan berbagai dagangan yang sebelumnya berderet di sepanjang jalan (meski telah disediakan kios namun pada hari Minggu atau hari besar, masih banyak juga PKL di sepanjang jalan). Untuk melengkapi sarana yang sudah ada, dibangunlah sebuah gardu jaga parkir dan sejumlah sarana sanitasi (kamar mandi dan toilet).
 
Pelaksanaan pembangunan dimulai pada tanggal 5 Agustus 1999. Setahun kemudian area parkir dan pendukungnya diresmikan oleh Bapak Uskup Agung Semarang Mgr Ignatius Suharyo pada tanggal 31 Juli 2000, tepat pada peringatan St Ignatius Loyola. Perlu diketahui saat peresmian pembangunan belum selesai seratus persen. Baru pada tanggal 23 September 2000, pembangunan dinyatakan selesai seluruhnya. Biaya pembangunan keseluruhan sebesar Rp 1.055.371.735,-
 
Selain pengembangan area, GMKA juga mengadakan renovasi. Salah satunya adalah renovasi atap dan pemasangan plafon gedung Serba Guna. Pekerjaan dimulai pada tanggal 5 Agustus 2002 dan selesai pada tanggal 12 Oktober 2002. Renovasi ini menelan biaya sebesar Rp 134.440.000,-
Sumber: jogyes.com

KEBUN TEH NGLINGGO Panorama Kebun Teh di Bukit Menoreh

1Trekking melewati lereng-lereng berundak yang tertutup permadani hijau hingga menikmati panorama delapan puncak gunung tinggi menjadi suguhan menawan ketika mengunjungi Kebun Teh Nglinggo, satu-satunya perkebunan teh di Perbukitan Menoreh, Kulon Progo.

Jalanan yang terus menanjak menjadi pertanda YogYES telah memasuki kawasan Desa Wisata Nglinggo, Kulon Progo. Baju dan selembar jaket yang saya kenakan ternyata tak mampu menghalau dinginnya udara di kawasan Perbukitan Menoreh pagi itu. Kabut tipis pun menemani perjalanan kami hingga sampai di tujuan, bahkan semakin menebal seiring dengan dataran yang semakin meninggi.

Sejarah Desa Wisata Nglingo tak bisa dipisahkan dari kisah kepahlawanan Pangeran Diponegoro ketika perang melawan Belanda bersama pasukannya di Perbukitan Menoreh. Menurut cerita turun temurun yang dipercaya masyarakat setempat, dahulu ada tiga orang prajurit pengikut Pangeran Diponegoro yang menyusun strategi tak jauh dari kawasan Desa Nglinggo. Tiga prajurit tersebut adalah Ki Linggo Manik, Ki Dalem Tanu, dan Ki Gagak Roban. Untuk mengenang para prajurit tersebut, akhirnya nama Ki Linggo Manik yang dianggap sebagai pemimpin, diabadikan menjadi nama sebuah desa yang kini telah menjelma menjadi kawasan wisata dengan pemandangan menawan. Salah satu pemandangan itu bisa kita saksikan di kawasan kebun teh, di ujung barat pedukuhan Nglinggo yang kemudian lebih populer disebut Kebun Teh Nglinggo.

Ketika kabut sudah tak menghalangi pandangan, terlihat tumbuhan Camellia sinensis memenuhi teras-teras lereng perbukitan di kawasan ini. Sekilas tampak seperti undakan yang ditutup permadani hijau. Udara dingin pun perlahan menghangat, berganti dengan udara sejuk khas pegunungan. Trekking di antara hamparan tanaman teh, off road mengelilingi kawasan kebun teh atau sekedar menikmati pemandangan adalah alternatif pilihan berwisata di kebun teh ini. YogYES pun memilih untuk trekking diantara tanaman teh dan berlanjut ke puncak di sisi barat. Dari puncak ini, Kebun Teh Nglinggo terlihat semakin cantik. Meskipun untuk mencapai puncak bukit ini, YogYES harus melewati tanjakan panjang berupa undakan tanah dan bambu yang cukup membuat ngos-ngosan saking tingginya.

Tak hanya puncak bukit tak bernama di sisi barat yang menyuguhkan panorama menawan. Masih ada dua puncak lain di sisi utara yang menyuguhkan indahnya pemandangan dari ketinggian. Keduanya merupakan puncak dari Gunung Kukusan yang secara administratif termasuk ke dalam wilayah Magelang, hanya beberapa ratus meter dari Kebun Teh Nglinggo. Puncak pertama yang lebih rendah dikenal dengan nama Puncak Dempok, sedangkan puncak yang lebih tinggi disebut sebagai Puncak Kendeng. Sama seperti Desa Nglinggo, Puncak Kendeng juga memiliki sejarah yang berkaitan dengan Pangeran Diponegoro. Sebuah petilasan berwujud batu yang terdapat di puncak ini dipercaya warga sebagai makam salah satu kerabat Pangeran Diponegoro bernama Pangeran Kendeng. Sehingga nama puncaknya pun serupa dengan nama sang pangeran.

Berbeda dengan panorama yang disuguhkan puncak di sisi barat, pemandangan dari Puncak Kendeng dan Puncak Dempok tak menyuguhkan pemandangan kebun teh, melainkan panorama delapan gunung yang terdapat di Jogja dan Jawa Tengah, seperti Merapi, Merbabu, Andong, Telomoyo, Ungaran, Sumbing, Sindoro serta Prau. Selain itu, Puncak Dempok dan Puncak Kendeng juga dikenal sebagai spot favorit bagi para pemburu sunrise. Tak jarang untuk mendapatkan pemandangan cantik berupa cahaya kuning keemasan, para pemburu sunrise ini pun rela bermalam di homestay atau camping di kawasan yang tak jauh dari kebun teh. Melawan dinginnya udara malam di Perbukitan Menoreh demi melihat lukisan hasil karya Tuhan di langit timur nan menawan.

Cara menuju ke sana:
dari Kota Jogja – Jl. Kyai Mojo – perempatan Demak Ijo Ringroad Barat, lurus – Jl. Godean – Pasar Godean, lurus – perempatan Nanggulan, belok kanan – perempatan Dekso, belok kiri – Pasar Plono, belok kanan – ikuti petunjuk ke arah Desa Wisata Nglinggo – Desa Wisata Nglinggo – Kebun Teh Nglinggo

Sumber: yogyes.com

Pantai Ngobaran

Pintu-Masuk-Menuju-Pantai-Ngobaran-WonosariPantai Ngobaran berada di desa Kanirogo, Kecamatan Saptosari, atau sekitar 65km dari pusat kota Yogyakarta. Pantai ini memiliki kisah tersendiri pada masa lalu. Dikisahkan, pada masa kejayaan kerajaan Demak, Prabu Brawijaya V beserta para pengikutnya melarikan diri sampai ke pantai ini. Yang pada akhirnya Prabu Brawijaya V membakar dirinya sendiri di pantai ini. Maka dari itu pantai ini diberi nama pantai Ngobaran yang berarti kobaran api. Satu yang istimewa dari Pantai Ngobaran adalah kulinernya yang terkenal dengan landak laut. Masakan landak laut dikenal memiliki rasa yang lezat layaknya daging ayam.

Sumber: wisataid.com

Keramaian-di-Pantai-Baron-WonosariPantai Baron merupakan salah satu pantai favorit wisatawan yang ingin bermain air, karena di kawasan ini tidak terdapat karang di tepi pantai sehingga sangat aman jika anda memutuskan untuk bermain air. Selain itu, yang lebih unik dari Pantai Baron ini adalah bahwa di tempat ini adalah tempat bertemunya air tawar dengan air laut. Anda bisa melihat jelas sungai mengalir menuju dan bercampur air laut. Hal seperti ini akan membuat wisatawan semakin tertarik untuk bermain air. Di pantai ini pun cenderung ramai dengan pengunjung karena memang beberapa fasilitas di pantai ini lebih memadai seperti tempat mandi, mushola, tempat makan dan juga tempat membeli buah tangan pun tersedia di sini.

Sumber: wisataid.com

Pantai Sundak

Pasir-Putih-di-Pantai-Sundak-Wonosari-YogyakartaHamparan pasir putih dari pantai yang satu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi para wisatawan. Pantai ini terletak di daerah Sidoharjo, kecamatan Tepus terletak sekitar 1 km ke arah timur jika dari pantai Krakal. Lokasi pantai ini sangat cocok bagi anda yang ingin menenangkan diri karena kawasan yang asri dengan perpaduan keindahan alam serta suasana yang tidak terlalu ramai karena masih sedikitnya pengunjung.

Sumber: wisataid.com